//
you're reading...
Artikel, Gallery

Tridharma: Identitas Pendidikan Perguruan Tinggi

Oleh: Fawzul Arifin 

PENDAHULUAN

Menurut Undang – Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, ketiga kewajiban tersebut merupakan isi daripada Tridharma Perguruan Tinggi. Al-Qur’an banyak memerintahkan kepada kita untuk banyak-banyak belajar, membaca, menggali ilmu pengetahuan, meneliti tentang misteri-misteri ciptaan-Nya,[1] dan mengaktualisasikan untuk kepentingan umat, inilah pesan-pesan mengenai Tridharma.

Kebanyakan dari Mahasiswa, tidak menegatahui tentang Tridharma. Penelitian yang diadakan oleh Litbang UKM  LPM Institut UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2011, menggambarkan bahwa dari 26.000 Responden dari kalangan mahasiswa seluruh fakultas, hanya 7% yang tahu atau pernah mendengar tentang Tridharma, selebihnya 93% tidak tahu, lupa, atau tidak mau tahu.[2] Sungguh sangat ironis memang. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengulas tentang Tridharma yang merupakan identitas Perguruan Tinggi dan berharap dapat membuka wawasan tentang hal tersebut kepada para kolega.

 

TRIDHARMA DAN PERGURUAN TINGGI

Mengenai masalah makna Tridharma memang sangatlah sulit untuk mencari literaturnya, maka kali ini penulis mencoba mengulas arti dari Tridharma tersebut. Tridharma berasal dari bahasa Sangsekerta. Secara Etimologi, Tri berarti tiga dan Dharma berarti Kewajiban. Jadi, Tridharma berarti tiga kewajiban yang harus dilakukan dan dijalankan. Sedangkan secara terminology, Tridharma berarti tiga kewajiban yang harus dijalankan dalam rangka mengembangkan budi pekerti luhur, memberi pengalaman praktis yang mendoronng kepada pelakunya untuk menemukan, mematuhi, menghayati system dan nilai yang berkaitan erat dengan masyarakat.[3] Hemat penulis, Tridharma adalah tiga kewajiban yang harus dijalankan oleh ‘Masyarakat’ Perguruan Tinggi.

Menurut Undang-Undang No 22 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, definisi Perguruan Tinggi adalah Lembaga ilmiyah yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran diatas perguruan tingkat menengah, dan yang memberikan pendidikan dan pengajaran berdasarkan kebudayaan-kebudayaan Indonesia dan dengan cara ilmiyah.[4] Dan pada pasal selanjutnya (Pasal 2) disebutkan bahwa pada umumnya perguruan tinggi mempinyai tujuan (1) membentuk manusia susila yang berjiwa Pancasila dan bertanggung jawab akan terwujudnya masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur, materiil dan spiritual. (2) menyiapkan tenaga yang cakap untuk memangku jabatan yang memerlukan pendidikan tinggi dan yang cakap berdiri sendiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan. (3) melakukan penelitian dan usaha kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kehidupan kemasyarakatan.[5]

ESENSI TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI

Menurut Suryo Hapsoro Tri Utomo, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, DIKTI, mengatakan bahwa Tridharma sudah lahir sejak 1946 ketika Sunaryo Soepomo dan Ki Hajar Dewantara merancang bentuk ideal Perguruan Tinggi, walaupun Tridharma belum terformulasikan, namun kala itu fungsinya sebagai Balai Pendidikan dan Pengajaran.[6]

Tridharma perguruan tinggi (PT) memiliki tiga mata rantai. Pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurut Perkins, 1986, menjelaskan bahwa tridharma PT mengacu pada tiga aspek pendidikan – yang cenderung memasuki wilayah pendidikan dan pengajaran. Tiga aspek tersebut adalah aquicition (penggalian), transmission (pemindahan), dan application (penerapan). Ketiganya akan memiliki ketergantungan dan keterkaitan yang melengkapi.

  1. A.           Pendidikan

Menurut Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan dan Pengajaran adalah kegiatan yang berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan baik bersifat teori mapun praktek di dalam lingkungan perguruan tinggi. Yang melibatkan Kurikulum, Sarana prasa pendidikan dan pengajaran, tenaga pengajar (dosen), peserta didik (mahasiswa), tenaga non edukasi (pegawai adminstrasi) dan lain sebagainya.[7]

Dalam penyelenggaraan pendidikan, ilmu (pengetahuan) dipandang sebagai produk. Ilmu merupakan produk pemikiran dan penelitian (pustaka, kancah, dan laboratorium) para ahli pada bidang masing-masing, kemudian dialihkan kepada mahasiswa sebagai pelanjut para ahli tersebut. Produk itu menjadi titik tolak penelitian untuk mengembangkan unsur substansi, unsur informasi, dan unsur metodologi. Dengan cara demikian, temuan baru akan dapat diperoleh melalui penelitian akademik dan penelitian pengembangan dalam konteks kekinian dan kedisinian.

Di samping itu, ilmu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penerapan keahlian sivitas akademika dalam menunjang kemajuan masyarakat. Penerapan ilmu dapat dijadikan media untuk mengukur signifikansi ilmu bagi penyelenggaraan pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan hal itu, dapat diperoleh umpan balik sebagai masukan bagi perumusan kebijakan di bidang kurikulum dan program studi yang dibutuhkan. Program studi yang dibutuhkan terus dikembangkan, bahkan ditingkatkan. Sementara itu, program studi yang tidak dibutuhkan sebaiknya dibubarkan.[8]

 

  1. B.            Penelitian

Penelitian merupakan kegiatan dalam upaya menghasilkan pengetahuan empirik, teori, konsep, metodologi, model, atau informasi baru yang memperkaya ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian.[9]

Dalam penyelenggaraan penelitian, ilmu dipandang sebagai proses. Ilmu dikembangkan melalui cara kerja ilmiah sesuai dengan pendekatan dan model penelitian yang digunakan. Hasil penelitian dialihkan dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama dalam kegiatan pembelajaran. Dosen akan mengalihkan bahan pengajaran berdasarkan hasil penelitian. Sementara itu, mahasiswa akan memperoleh unsur-unsur ilmu yang segar dan mutakhir. Hasil penelitian tersebut diuji kembali dalam penyelenggaraan penelitian berikutnya secara terus menerus dan berkesinambungan.

Di samping itu, penelitian dapat dijadikan sebagai cara kerja untuk memecahkan masalah kemasyarakatan secara ilmiah. Cara pemecahan masalah yang demikian tentu saja sangat tergantung kepada karakteristik dan daya ampuh masing-masing disiplin atau bidang ilmu. Oleh karena itu, penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan interdisipliner atau pendekatan multidisipliner. Dengan cara demikian, substansi disiplin atau bidang ilmu akan berkembang, karena pada dasarnya ilmu merupakan deskripsi, eksplanasi, dan prediksi tentang kehidupan dalam arti yang luas, mencakup gejala alamiah, gejala sosial, dan gejala budaya, sebagai “buku besar” yang penuh dengan pertanda dan misteri.[10]

Penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang diasilkan melalui proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagi hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya diterapkan melalui Pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.[11]

 

  1. C.           Pengabdian Masyarakat

Dalam penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat, ilmu dipandang sebagai metode. Ilmu ditempatkan sebagai instrumen dan cara kerja untuk memecahkan masalah kemasyarakatan secara ilmiah. Hal itu bermakna bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan wahana penerapan ilmu dan keahlian sivitas akademika dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Unsur substansi, unsur informasi, dan unsur metodologi dari berbagai disiplin atau bidang ilmu yang sangat abstrak dapat dikonkretisasi dalam kehidupan masyarakat yang selalu mengalami perubahan dan sarat masalah yang sangat rumit dan pelik.

Di samping itu, cara pemecahan masalah melalui penelitian aksi dan penelitian kebijakan dalam penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat akan memperoleh keluaran berupa berbagai masalah penelitian, bahkan subject matter disiplin atau bidang ilmu. Hasil penelitian tersebut memperluas besaran wilayah penelitian (unsur substansi) yang dapat dijadikan subjek penelitian akademik dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama untuk penulisan skripsi, tesis, dan disertasi.[12]

Pengabdian kepada masyarakat pada hakikatnya membantu masyarakat agar masyarakat mau dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Dengan demikian azas pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan azas kemanusiaan yang menekankan pada usaha pengembangan masyarakat sebagai subjek pembangunan. Kemudian pengabdian kepada masyarakat harus dilandasi pada kepercayaan dan kemampuan serta kekuatan masyarakat itu sendiri.

Ada beberapa bentuk pengabdian kepada masyarakat, antara lain:

1. Pengembangan Desa Binaan

Ada beberapa keuntungan pengembangan desa binaan antara lain, dapat dilaksanakan secara berkesinambungan, dapat melibatkan berbagai disiplin ilmu, serta dapat memecahkan masalah secara tuntas.

2. Pelatihan di kampus dan luar kampus.

Pelatihan yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan akan mampu dengan segera mengembangkan sumber daya manusia sesuai kebutuhan.

3. Local verification trial.

Local verification trial akan mampu menyatukan kegiatan penelitian dengan pengabdian masyarakat. Masyarakat dapat melihat secara langsung cara menghasilkan suatu teknologi karena langsung dilibatkan.

4. Pelaksanaan KKN/S (Kuliah Kerja Nyata/Sosial).[13]

 

KESIMPULAN

Seperti yang telah dijelaskan di atas, isi dari pada Tridharma Pengruruan Tinggi yakni: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, ini berarti Penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang diasilkan melalui proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagi hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya diterapkan melalui Pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Dan ketiganya harus saling bersinergi karena Tridharma merupakan fungsi Perguruan Tinggi yang Universal.

“Tridharma adalah Fungsi Perguruan Tinggi yang Unversal”


       [1] Syahrin Harahap. Penegakan Moral Akademik Didalam dan Diluar Kampus. (Jakarta: PT. RagaGrafindo Persada. 2005.) hal 32.

       [2] Litbang LPM Institut.Pengetahuan Mahasiswa tentang Tridharma. Dalam Tabloid Institut edisi XII/April 2011. (Jakarta: LPM Institut UIN Jakarta. 2011). Hal. 4.

       [3] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Kursus Mahir Dasar Untuk Membina Pramuka. (Jakarta: Kwarnas. 2010). Hal 41.

       [4] Suryosubroto. Beberapa Aspek Dasar – Dasar Kependidikan. Cet 2 (Jakarta: Rineka Cipta. 1990). hal. 58.

       [5] Undang-Undang No 22 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi

       [6] Litbang LPM Institut.Pengetahuan Mahasiswa tentang Tridharma. Dalam Tabloid Institut edisi XII/April 2011. Halaman 12.

       [7]  Aditya Fathonah Toreh. Telaah Kritis Tridharma Perguruan Tinggi. http: // perpustakaanstainmanado. blogspot.com/2011/01/telaah-kritis-tri-dharma-perguruan.htm. (diakses tanggal 23 April 2011).

       [8] Direktorat Jendral Kementrian Agama. Penelitian dan Tridharma Perguruan Tinggi. http://www. ditpertais.net/ regulasi/ domlit/02. asp (diakses tgl 23 April 2011).

       [9] Aditya Fathonah Toreh. Telaah Kritis Tridharma Perguruan Tinggi. http: // perpustakaanstainmanado. blogspot.com/2011/01/telaah-kritis-tri-dharma-perguruan.htm. (diakses tanggal 23 April 2011).

      [10] Direktorat Jendral Kementrian Agama. Penelitian dan Tridharma Perguruan Tinggi. http://www. ditpertais.net/ regulasi/ domlit/02. asp (diakses tgl 23 April 2011).

       [11] Gana. Tridharma Perguruan Tinggi. http://smktipembangunan.forummotion.com/t1257-tri-dharma-perguruan-tinggi (diakses tgl 23 April 2011).

       [12] Direktorat Jendral Kementrian Agama. Penelitian dan Tridharma Perguruan Tinggi. http://www. ditpertais.net/ regulasi/ domlit/02. asp (diakses tgl 23 April 2011).

       [13] Aditya Fathonah Toreh. Telaah Kritis Tridharma Perguruan Tinggi. http: // perpustakaanstainmanado. blogspot.com/2011/01/telaah-kritis-tri-dharma-perguruan.htm. (diakses tanggal 23 April 2011).

About these ads

Tentang silfaaz

Alumni MAN Indramayu yang sekarang sedang menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sejak ia hadir dalam dunia pendidikan, ia selalu tampil sebagai aktivis dan juga akademis.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: